Konferensi Internasional ASEANECA: Pemberdayaan Nusantara

Dipublikasikan pada 20 Oct 2026 oleh 1

Konferensi Internasional ASEANECA: Pemberdayaan Nusantara

Suatu kesempatan yang langka, bahwa saya bisa hadir dalam salah satu momen penting dalam tajuk International Conference yang diselenggarakan oleh ASEAN Academic Association (Aseanaca), pada 03/10/2026 di Grand Ballroom Ames Hotel Ayer Keroh Melaka, Malaysia. Sebuah konferensi Internasional yang diikuti oleh 18 PTN dan PTS di Malaysia dan Indonesia. Saya melihat ada utusan dari PTN dan PTS serta PTKIN dan PTIKIS dari Indonesia. Konferensi dengan tajuk “Empowering Nusantara Through Education, Culture and Sustainable Development”.

Tema besar konferensi ini adalah: “Nusantara Education & Culture Festival 2026.” Konferensi ini merupakan yang ketujuh. “The 7th ICOSTELM or “The 7th International Conference on Sustainability in Technological, Environment, Law, Management, Social and Economic Matters”.  Konferensi ini didukung oleh banyak pihak: Pemerintah Serawak, Universiti Geomatika Malaysia, Geomatika TVET College Melaka, Ames Hotel, ASEANACA, KADMDI atau College Antarbangsa Dunia Melayu Dunia Islam, dan lain-lain. Acara dimulai pukul 8.00 am-4.40pm.

Acara dibuka oleh Prof. Datuk Is, Dr. Mazrin Rohizak Che Rose, Vice Chancelor Universiti Gemomatika Malaysia (UGM), dilanjutkan dengan opening speech Prof. Dr. Tulus Suryanto, President   ASEAN Academic Association (ASEANAKA), Lampung Islamic University,  dan Keynote Speech Tan Sri Prof. Datuk Wira Dr, Abdul Latif Abu Bakar, Academic Figure & Board of Directores DMDI Malaysia, dilanjutkan dengan kerja sama akademik oleh beberapa PT di Indonesia dan Malaysia, dan Professoral Inauguration Ceremony untuk Dr. Muhammad Zakky, Drs, SH, CMed, CICSS. (Universitas Sunan Giri Surabaya), Dr. Gugun Gunadi (Universitas Djuanda Bogor) dan Dr. Tasdiyanto Rohadi, SP., MSi (Staf Khusus Kementerian Perumahan Rakyat dan Dosen STEBI Lampung).

Ada dua session di dalam acara diskusi yaitu Plenary Session-Panel Discussion dengan tema “Future Education and Business Practices) untuk session pertama  dengan moderator Prof. Emeritus Dato Seri Dr. Muhammad Nasir bin Saludin (Director Centre of Postgraduate Studies University Geomatika Malaysia),  dengan empat narasumber, yaitu: Assoc. Prof. Dr. Zulfahmi bin Rashid, Assistent Director Centre of Postgraduate Studies, Universiti Geomatika Malaysia. Lalu, Assoc. Prof. Dr. Ismahasimah binti Ismail, Deputy Vice Chancelor Academic and TVET Industry Universiti Geomatika Malaysia, Dr. Tasdiyanto Rohadi, S.P, MSi, Special Advisor to The Minister of Housing and Recidential Area/Dosen STEBI Lampung University, dan Assc. Prof. Dr. Gugun Gunadi, Universitas Djuanda Bogor.

Pada session kedua dengan tema “Future Ready Human Capital  Development”,  dengan moderator Prof. Emeritus Dato seri Dr. Muhammad Nasir bin Saludin  (Directore Centre of Postgraduate Studies University Geomatika Malaysia), dengan empat narasumber yaitu: Prof. Datuk Is, Mazrin Rohizaq Che Rose (Vice Chancelor Universiti Geomatika Malaysia), Adj. Prof. Azamaizam Baharom, President Persatuan Pedagang dan Pengusaha Melayu Malaysia (PERDASAMA), Dr. Masfiyatul Asriyah, MPd., (Institut Agama Islam Darul Fattah Lampung Indonesia) dan Dr. Muhammad Zakky, Drs, SH, MSi, CMed, CICSS (Head of Yayasan Mukmin Mandiri, Lecturer of Post Graduate Universitas Sunan Giri, Indonesia).

Saya ingin menggaris bawahi beberapa presentasi yang disampaikan oleh narasumber:

Pertama, presentasi yang disampaikan oleh Assc. Profesor Ismahasimah tentang “Curriculum Innovation in Higher Educatioan:  Interdiciplinary and Modular Degree Struktur for Changging World”. Bagi Asmahasimah bahwa kurikulum inovasi adalah kurikulum yang bergerak dari fixed programmes ke pembelajaran fleksibel berbasis ecosystem. Untuk kepentingan ini, maka diperlukan  sertifikasi resmi kepada seseorang yang menguasai hard skilled dan soft skilled yang sertifikasi tersebut terdapat interdisiplinary dengan industri yang pembelajarannya terintegrasi untuk memperkuat relevansi pembelajaran dengan dunia industri, Malaysia  memiliki peluang untuk  mengembangkan mekanisme yang beraneka ragam melalui flexible learning berbasis pada kolaborasi dengan dunia industri.

Sementara itu, Adj. Prof. Azamanizam Baharom menegaskan bahwa sekarang masyarakat sudah memasuki dunia digital, maka seluruh aktivitas perdagangan juga masuk dalam kawasan ini. Digitalisasi perdagangan tidak bisa dihentikan. Oleh karena itu, dunia perdagangan Malaysia sudah memasuki era One network one future atau DMDI Nexus yaitu Dunia Melayu Dunia Islam dalam jejaring Nexus. Konsep yang dikembangkan dalam jejaring adalah Together  We Are Stronger. Data menjadi sangat penting agar kekuatan ekosistem ekonomi akan lebih dapat diperkasa.

Dr. Masfiyatul Asriyah berdasarkan atas penelitiannya yang dipresentasikan berjudul “Moral Based Education Leadership: A Model of Character Strengthening  and Continuous Education in The Archipelago” dinyatakan bahwa anak itu melakukan apa yang dilihatnya. “Children see children do”. Sebuah ungkapan yang sangat menarik yang menggambarkan bahwa apa yang dilihat oleh seorang anak dari yang lebih dewasa, maka itu yang akan dilakukannya. Oleh karena menjadi pemimpin atau guru atau dosen dan orang tua akan menjadi contoh bagi anak-anak. Jadi, seorang pemimpin harus menjadi contoh bagi siapa saja yang dipimpinnya, termasuk dunia pendidikan. Dosen atau guru harus menjadi contoh kebaikan, agar para siswa atau mahasiswa akan meneladaninya.

Presentasi yang menarik juga disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Zakky. Di dalam presentasinya dinyatakan bahwa sudah saatnya, pesantren  tidak menarik santrinya yang berupa SPP atau lainnya. Pesantren harus mandiri. Pesantren justru menjadi lembaga pendidikan yang dapat memberikan ruang kerja bagi santrinya, memberikan peluang bekerja bagi masyarakat di sekelilingnya dan pesantren dapat mengentas kemiskinan. Pesantren Mukmin Mandiri dapat menjadi role model bagi pesantren mandiri, berkemampuan untuk mengembangkan Kopi ekspor ke Eropa dan Australia dan juga mengembangan usaha-usaha lain yang bermanfaat. Ada trilogi: Pesantrenpreneurship, santripreneurship dan jihadpreneurship. Dengan ketiganya, maka pesantren tidak hanya menghasilkan orang yang ahli tafaqquh fiddien akan tetapi juga santri yang memiliki mindset pengembangan usaha.

Agenda
30
Wednesday
Program Perhimpunan Erat Dagang Malaysia–Indonesia 2026 Dorong Penguatan Kerja Sama Akademik, Budaya dan Perdagangan

Sep 2026

Kuala Lumpur, Malaysia — Kerja sama antara Malaysia dan Indonesia terus diarahkan pada penguatan hubungan…

15
Thursday
Kunjungan Kampus di Malaysia

Jan 2026

Dilaksanakan Pada 15 januari 2026

Pengumuman